'manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, dan hanya memikirkan apa yang terlihat'
KONKAF
Hatiku mulai gugup saat pengawas mulai membagikan lembaran soal. Aku
memang sudah belajar, tapi kurasa gugup adalah sesuatu yang pantas
untuk saat ini. Mengingat beberapa lembar kertas yang telah di satukan
dengan rapi oleh besi kecil ini akan mewakili 3 tahunku di SMA.
Jantungku terus berdegup teratur namun cepat sampai saat itu. Dia melakukannya lagi, hahaha. Bahkan sampai saat ini,dia masih melakukannya.
Tak pernah menoleh saat memberikan soal. Bukan hanya saat memberikan
soal. Dia bahkan tidak melihatku saat kami berbicara. Aku hanya
tersenyum memikirkannya. Sekelebat bayangan beberapa minggu yang lalu
terlintas kembali dibenakku.
~~
Hari itu adalah hari dimana semua murid tingkat terakhir di SMAku
menuliskan 3 pilihan yang mungkin menentukan masa depan kami di sebuah
kertas bertuliskan SNMPTN dengan huruf besar. Pilihan yang cukup
membingungkan memang. Tetapi, aku sudah cukup lama memikirkannya. Jadi
aku sudah cukup yakin dengan apa yang telah kutuliskan di secarik kertas
ukuran A4 itu.
Begitupun dia, seorang gadis yang telah mencuri perhatianku setahun
belakangan ini. Diapun terlihat yakin dengan pilihannya. Matanya yang
bulat namun tajam itu menatap lurus kertas didepannya. Tanpa ragu dia
menorehkan tinta pena hitamnya mengisi setiap isian-isian yang ada di
kertas itu.
Tanpa ku sadari kedua ujung bibirku melengkung keatas. Ruika
Wijayanti. Nama yang unik hasil kesalahan aparat pemerintah saat
mengetik namanya di akta kelahiran. Konyol memang. Tapi, menghasilkan
panggilan yang indah untuk seorang perempuan yang sangat berbeda, rui.
Setelah meletakkan pekerjaanku, aku berjalan menghampirinya. Dia
sedang duduk di kursinya dengan anggun dan tenang. Jarinya yang indah
menyeka rambutnya ke belakang telinga. Semua gerak-geriknya terlihat
indah dimataku, aku benar-benar menyukainya. Aku sudah lama
memperhatikannya, dia adalah gadis yang pintar, manis, baik, dan tajam.
Namun, ada satu hal yang aku bingungkan darinya. Dia tak pernah
melihatku. Bukannya, dia tidak menyadari keberadaanku. Kami sering
berbicara. Kami cukup akrab. Pemikirannya yang terbuka dan logis sangat
cocok denganku. Kami hampir berbicara setiap hari, tetapi sampai
sekarangpun dia tidak pernah melihatku. Bahkan saat kami berhadapan aku
bisa melihat di mata sabitnya dia tidak melihatku. Dia melihat hal yang
jauh. Hal yang tidak aku ketahui. Hal yang tidak aku mengerti.
‘Rui, serius banget. Sampai kamu ga tau dari tadi aku disini’
kataku. Dia menghentikan gerakan penanya. Tanpa menatapku dia menjawab
‘Aku tau kok kamu disini Kris. Ayo kita ke kantin aku lapar’. Ia
tersenyum padaku lalu berjalan menuju meja guru. Dimana setumpuk kertas
telah ada disana. Semua guru sedang rapat, jadi kami bebas setidaknya
untuk jam pelajaran ini.
Kami berjalan bersama menuju kantin. Setelah memesan makanan
masing-masing kami menunggu pesanan yang nantinya akan diantar oleh
petugas kantin ke meja kami. Aku dan Rui duduk di sebuah meja yang
menghadap ke taman. Beruntung saat itu kantin tidak terlalu ramai.
Sehingga suasana sejuk dari taman bunga dapat kami nikmati. Rui membuka
bukunya lagi. Haah, buku lagi. Sesungguhnya bukunya adalah musuh
terbesar bagiku. Ya, meskipun aku juga suka membaca buku.
Suara nyanyian burung gereja menyadarkanku. Aku teringat apa
tujuanku menghampiriya tadi. Aku ingin menyatakan perasaanku. Aku sudah
tidak tahan lagi untuk meyimpannya jauh di dalam hati semu ini. Aku
lelah untuk berpura-pura tidak menyukainya. Semakin lama ini semakin
menggangguku. Semakin lama aku semakin menyukainya. Naluri manusia
terdalamku untuk memilikinyapun semakin besar. Aku benar-benar harus
menyatakannya kali ini.
Sekarang atau tidak selamanya pikirku.
‘Kris, awannya lucu ya, kayak buah pear’ candanya. Tanpa kusadari
ternyata aku sudah cukup lama melamun. ‘Menurutku itu malah mirip kamu,
gemuk’ Balasku tertawa kecil. Dia mengerucutkan bibirnya lucu.
Sepertinya candaanku tadi cukup membuatnya kesal. Rui memang tidak
gemuk, namun entah kenapa pipinya sangat tembem. ‘Rui, bentar lagi kan
kita tamat’ mulaiku. Dia masih menatap lurus kedepan. Padahal aku sedang
berbicara padanya. ‘Hm, iya kenapa?’ jawabnya.
‘Kamu ada suka seseorang ngga? Suka antara cewek cowok gitu’
lanjutku gugup. Rui masih menatap lurus kedepan, tapi aku sedikit
bersyukur dengan kebiasaannya itu. Kalau dia melihatku sekarang. Aku
tidak tau akan semalu apa diriku. Aku yakin mukaku sudah sangat merah
saat ini. ’Ada’ jawabnya.
Hatiku tersentak mendengar satu kata itu. Aku hanya terdiam
setelahnya. Aku bukan hanya terdiam karena terkejut dengan kata-kata
yang terlontar dari gadis yang aku sukai ini. Aku terdiam melihat
ekspresi Rui yang tiba-tiba berubah sedih. Aku bisa melihat matanya
mulai berkaca-kaca. Rasa penasaran membuatku lupa dengan tujuan awalku
dan jawaban Rui tadi. Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan. Kenapa rui
jadi sangat sedih.
Tiba-tiba ia melihat kearahku dan tersenyum, ‘kenapa ekspresimu
khawatir sekali kris? Aku bercanda kok’ katanya sembari tertawa kecil.
Aku sedikit lega. Aku mengikutinya menatap lurus kedepan. Kami duduk
dalam diam dengan pikiran masig-masing. Rui.. Rui.. Meskipun kamu
tersenyum semanis itu. Aku tau kamu lagi sedih. Aku tau kamu tidak
bercanda. Niatku untuk menyatakan perasaanku hilang entah kemana. Ruika
wijayanti terasa sangat tidak mungkin bagiku. Seperti tatapannya, aku
tidak bisa menggapainya, dia selalu melihat sesuatu yang jauh.
Sedangkan aku berada tepat disampingya. Dia tidak akan pernah melihatku.
Aku hanya bisa tersenyum.
Tak lama kemudian seorang wanita paruh bayapun datang mengantarkan
makanan kami. ‘Rui, makan yok, jangan ngelamun terus, ntar aku habisin
makanannya’ kataku mengingatkannya. ‘jangan dong kris, aku lapar banget’
katanya sambil memasang ekspresi lapar.
~~~
‘baiklah waktunya dimulai dari sekarang’ suara pengawas
menyadarkanku dari lamunan kecil di hari terakhir ujian ini. Aku pun
membuka soalku. Kulihat rui pun sedang mengerjakan lembarannya dengan
serius. Haah, gadis itu. Kalau sudah fokus memang tidak bisa diganggu,
pikirku sembari tersenyum. Akupun juga mulai mengerjakan lembaranku
dengan serius.
Setelah hari ini, kami akan menjalani kehidupan masing-masing yang
tentunya akan sangat berbeda. Bahkan mungkin kami tidak akan pernah
bertemu lagi. Aku tidak menyesal sama sekali telah kenal dan menyukai
rui. Dia memang nyaris sempurna. Aku akan selalu mengingatnya setelah
hari ini. Mengingat matanya yang menatap jauh ke angkasa. Seperti
teropong. Begitu tajam, jernih dan fokus, namun hanya bisa melihat hal
yang jauh, dan selalu melihat yang jauh.